Sajak Manis di Mayang Rambutmu :/untuk acep zamzam noor angin berarak naik ke pundak menepi mengibas mayang rambutmu dan ketika baku pandang redup di bulan itu kita sadari tubuh rekat di pelukmu seperti sajak manis yang kau kirim itu menafsir musim berganti karena sajak adalah harapan sajak adalah hidupku akan datang sajak adalah danau tenang tanpa sampan tanpa gelombang *) kita mendayung dalam kenang jika tak ada senyap antara celah tingkap yang mengulurkan lembayung**) kita masih tengadah, ada bintang menyaksikan rindu ini tercurahkan yang nyala dalam jiwa kemudi dalam hidup***) tak pernah sekali kita biarkan redup walau malam mengirim serdadu hitam bagai kabut menyusur laut kesaksian jiwa yang lahir dari mata kita terbaca dari titipan bunyi bait dan rima seperti kwatrin malam pertemuan kata pada kegelapan. malam yang mengalirkan badai dan laut pasang. pada lagumu****) balada kasih sebelum kita menjadi penyair lagi note: *) bait dari puisi Prelude, Acep Zamzam Noor, 1978 di buku Menjadi Penyair Lagi, 2011 **) bait dari puisi Lagu Senyap, Acep Zamzam Noor, 1979 di buku Menjadi Penyair Lagi, 2011 ***) bait dari puisi Rindu, Acep Zamzam Noor, 1981 di buku Menjadi Penyair Lagi, 2011 ****) bait dari puisi Kwatrin Malam,Acep Zamzam Noor, 1982 di buku Menjadi Penyair Lagi, 2011 Bandung, 21 September 2011 Cemara Berdaun Kata :/untuk acep zamzam noor cemara itu berdaun kata berdiri memagari tepian makna dari akarnya keluar bait puisi setapak bagi pejalan kaki yang sunyi membawa gerimis hujan lebat di Pangrango tak terlihat dari gundukan bukit Dago jauh pandang seperti kemolekan ranum, sayup bagai gemintang berkelebatan sepanjang malam purnama *) di tubuh perempuan yang bibirnya telanjang Jika Anda dasar apa yang Anda lakukan pada informasi yang tidak akurat, Anda mungkin akan tidak menyenangkan terkejut oleh konsekuensi. Pastikan Anda mendapatkan cerita
keseluruhan dari sumber-sumber informasi.
adakah masih seseorang menunggu dalam hujan **) seperti kelam yang menutup tirai malam lindap jejak tak terlagukan karena malam ini kubangun lagi sajak dari lelehan gelisahku ***) note: *) dari bait puisi Perempuan, 1980; Acep Zamzam Noor dalam buku Tamparlah Mukaku!, 1982 **) dari puisi Malam Yang Turun, 1981; Acep Zamzam Noor dalam buku Tamparlah Mukaku!, 1982 ***) dari puisi Malam Ini Kubangun Lagi Sajak, 1981; Acep Zamzam Noor dalam buku Tamparlah Mukaku!, 1982 Bandung, 21 September 2011 Bengawan cinta itu bagai air di bengawan melaju terus ke hilir dari hulu bening dan sunyi dari degup tanpa bunyi dari desir merambat tepi bayangan ke batu hitam aras palung sering air itu memundak gaung masuk lorong tanpa jendela mencari senandung tanpa cela yang tampak dari daratan air itu terus bersilang warna merajah menyatukan harapan dengan masa lalunya tentang sucinya mimpi dan kenyataan cinta itu bagai air di bengawan mayang berhimpun di telaga beriring pula hingga ke samudera tak terhitung berapa jauh perjalanan note: *) Arai itu mayang, seperti arai enau *) Aras itu menyentuh *) Bengawan itu sungai besar Bandung, 13 September 2011 Rama Prabu, Penyair tinggal di Bandung, Direktur Dewantara Institute œLembaga Kajian Kebudayaan, Pendidikan dan Politik. Karya berupa buku Sabda Sang Pencinta/Lovecode (limited edition/2006); Jogja Dalam Keistimewaan (Pendapa Press, 2007); Antologi Puisi Penyair Nusantara/Musibah Gempa Padang (KL, Malaysia, 2009); Negeri Cincin Api (PP Lesbumi NU, 2011). Segera Terbit Buku Puisi 2011: Mata Rama, 151 Rubaiyat Rama Prabu, (Dewantara Institute & Asram Rama Prabu, 2011), Ramayana, 151 Jalan Cinta (Dewantara Institute & Asram Rama Prabu, 2011), Testamen Penyair Merah (Dewantara Institute & Asram Rama Prabu, 2011). Telah menulis kurang lebih 2000 bait puisi. Dapat ditemui di situs www.ramaprabu.org, http://www.facebook.com/ramaprabu, e-mail: lord.ramaprabu@yahoo.co.id ~lordramaprabu@gmail.com.
adakah masih seseorang menunggu dalam hujan **) seperti kelam yang menutup tirai malam lindap jejak tak terlagukan karena malam ini kubangun lagi sajak dari lelehan gelisahku ***) note: *) dari bait puisi Perempuan, 1980; Acep Zamzam Noor dalam buku Tamparlah Mukaku!, 1982 **) dari puisi Malam Yang Turun, 1981; Acep Zamzam Noor dalam buku Tamparlah Mukaku!, 1982 ***) dari puisi Malam Ini Kubangun Lagi Sajak, 1981; Acep Zamzam Noor dalam buku Tamparlah Mukaku!, 1982 Bandung, 21 September 2011 Bengawan cinta itu bagai air di bengawan melaju terus ke hilir dari hulu bening dan sunyi dari degup tanpa bunyi dari desir merambat tepi bayangan ke batu hitam aras palung sering air itu memundak gaung masuk lorong tanpa jendela mencari senandung tanpa cela yang tampak dari daratan air itu terus bersilang warna merajah menyatukan harapan dengan masa lalunya tentang sucinya mimpi dan kenyataan cinta itu bagai air di bengawan mayang berhimpun di telaga beriring pula hingga ke samudera tak terhitung berapa jauh perjalanan note: *) Arai itu mayang, seperti arai enau *) Aras itu menyentuh *) Bengawan itu sungai besar Bandung, 13 September 2011 Rama Prabu, Penyair tinggal di Bandung, Direktur Dewantara Institute œLembaga Kajian Kebudayaan, Pendidikan dan Politik. Karya berupa buku Sabda Sang Pencinta/Lovecode (limited edition/2006); Jogja Dalam Keistimewaan (Pendapa Press, 2007); Antologi Puisi Penyair Nusantara/Musibah Gempa Padang (KL, Malaysia, 2009); Negeri Cincin Api (PP Lesbumi NU, 2011). Segera Terbit Buku Puisi 2011: Mata Rama, 151 Rubaiyat Rama Prabu, (Dewantara Institute & Asram Rama Prabu, 2011), Ramayana, 151 Jalan Cinta (Dewantara Institute & Asram Rama Prabu, 2011), Testamen Penyair Merah (Dewantara Institute & Asram Rama Prabu, 2011). Telah menulis kurang lebih 2000 bait puisi. Dapat ditemui di situs www.ramaprabu.org, http://www.facebook.com/ramaprabu, e-mail: lord.ramaprabu@yahoo.co.id ~lordramaprabu@gmail.com.
No comments:
Post a Comment